Ekspor NPI ke Eropa Berhenti pada 2026, China Tetap Jadi Penopang Utama

By Admin


Ilustrasi Pemuatan Nikel

nusakini.com, Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyatakan bahwa terhentinya akses ekspor besi kasar nikel (NPI) ke Eropa akibat aturan jejak karbon bukanlah isu kritikal. Berdasarkan data organisasi tersebut, volume pengiriman komoditas ini ke Benua Biru memang tergolong sangat kecil jika disandingkan dengan total ekspor nasional.

Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, menjelaskan situasi ini pada Selasa (4/10/2026) dalam menanggapi penerapan kebijakan lingkungan global. “Kehilangan akses atas ekspor produk nikel Indonesia ke Eropa tentunya disayangkan, namun persentase volumenya tidak signifikan dibanding ke China,” ujar Sudirman.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Juli 2026 memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun negara Eropa yang menyerap produk tersebut pada semester pertama. Menurut laporan resmi lembaga itu, total pengiriman NPI ke luar negeri pada periode Januari hingga Juli 2026 sukses menembus angka 5,98 juta metrik ton.

Posisi China justru semakin kokoh sebagai pembeli utama dengan menyerap sekitar 5,86 juta metrik ton pada paruh pertama tahun ini. Penurunan tajam permintaan dari pasar benua barat tersebut sejatinya telah mulai terpantau secara konsisten sejak tahun 2025 lalu.

Pernyataan dari pihak Perhapi ini tampak sejalan dengan analisis grup tambang Prancis, Eramet SA, yang diungkap pada Rabu (30/9/2026) pekan lalu. Perusahaan tersebut menduga bahwa tingginya ketergantungan industri nikel Indonesia pada batu bara membuat produknya terdepak dari pasar Eropa yang makin ketat.

Kendati dampak langsungnya masih sangat kecil, pelaku industri di dalam negeri tetap diminta mewaspadai tren pengetatan lingkungan di masa depan. "Meskipun pendekatan mereka tidak persis sama dengan aturan milik Uni Eropa, kita harus memperketat standar ESG karena China dan Jepang juga mulai menerapkan regulasi serupa," kata Sudirman mengingatkan.

Sebagai bentuk perbandingan historis, volume pengiriman NPI ke daratan Eropa pada tahun 2024 sempat menyentuh angka kumulatif sekitar 87.500 metrik ton. Menurut catatan statistik, angka tersebut kemudian merosot tajam pada 2025 seiring pemberlakuan aturan emisi gas rumah kaca yang lebih terukur.

Belanda diketahui sempat menjadi pintu masuk utama di Eropa dengan catatan serapan mencapai 100.041 metrik ton pada perdagangan 2024. Peningkatan beban biaya karbon di wilayah operasional tersebut pada akhirnya diyakini mematikan daya saing harga produk nikel dari negara berkembang.

Secara garis besar, tren perdagangan nikel mentah Indonesia justru dinilai terus menunjukkan grafik yang menjanjikan dari tahun ke tahun. Akumulasi ekspor sepanjang tahun 2025 tercatat melonjak tajam hingga nyaris menyentuh angka 11,56 juta metrik ton di pasar dunia.

Kondisi tersebut mempertegas bukti bahwa hilangnya pangsa pasar kawasan Eropa dapat ditutupi sepenuhnya oleh tingginya permintaan dari kawasan Asia. Tren semacam ini diperkirakan akan terus berlanjut selama negara pelanggan utama belum menerapkan standar karbon yang sama ketatnya dengan blok barat. (*)